Monday, October 6, 2014

NARKOBA…SI NAKAL PENCIPTA TRAGEDI

| |

Hampir selama sepekan ini mata kita seolah terus diajak bercengkerama dan menikmati topik hangat tentang kecelakaan yang terjadi di kawasan Monumen Nasional, tepatnya di halte Tugu Tani Jakarta Pusat. Ini memang bukan satu-satunya kasus kecelakaan di Indonesia, tapi apa yang membuat kasus ini begitu menarik perhatian masyarakat? Benarkah karena kejadiannya yang memang teramat menghebohkan karena sudah menghilangkan sembilan nyawa dan membuat tiga lainnya luka-luka? Atau, hanya media yang terlalu berlebihan memberitakan kasus ini? Dua opsi itu mungkin bisa menjadi satu rangkaian jawaban yang membuat kasus itu menjadi sangat heboh akhir-akhir ini.

Awalnya saiia juga sama sekali tidak tertarik dengan berita lakalantas semacam ini. Lagipula bukankah hanya 12 korban? Sebelumnya saiia juga pernah menonton berita lakalantas yang menewaskan lebih dari 30 orang. Hanya saja akhirnya ketidakingintahuan saiia terus mendapat serangan dari berbagai media yang terus memperbincangkan topik ini, dari acara resmi semacam berita utama, lalu acara sok resmi seperti gosip, bahkan hingga status facebook yang kadang dituliskan dalam format alay oleh beberapa kawan di beranda saiia.

Ketidakingintahuan saiia yang sudah luruh karena serbuan berita dan media yang terlalu dahsyat tentang topik ini kemudian membuat saiia mau tidak mau harus terus mengikuti perkembangan kasus ini. Tidak seburuk apa yang saiia kira, kasus ini ternyata cukup “menyenangkan” untuk saiia ikuti. Satu hal yang membuat saiia merasa tertarik adalah wajah tanpa dosa dari empat penunggang mobil hitam Daihatsu Xenia keluaran 2010 paasca kecelakaan maut itu terjadi. Bukan hanya tanpa dosa, bahkan mereka sama sekali tidak terlihat ketakutan. Kalian tahu, awalnya saiia sangat berminat untuk belajar dari mereka bagaimana caranya agar tetap merasa tenang dan tidak takut meskipun sedang berada dalam masalah yang besar.

Berita-berita baru terus bergulir untuk topik ini, dan saiia juga tidak kunjung bosan untuk ikut mendramatisir. Berbagai istilah muncul setelah kejadian ini, sebut saja “XENIA MAUT”, “SUPIR MAUT”, “SUPIR EKSTASI” dan beberapa yang lainnya lagi. Saiia sedikit tersenyum geli saat mendengar istilah “XENIA MAUT”, merasa iba juga dengan produsen brand tersebut. Yah, semoga saja istilah itu tidak membuat mereka harus merugi karena angka penjualan yang menurun.
Dugaan pertama yang muncul dari lakalantas yang didalangi Afriyani Susanti (29 tahun) adalah karena rem xenia yang tidak berfungsi maksimal. Sayang, alasan itu kemudian dimentahkan begitu saja setelah dilakukan uji lokasi dan uji kelayakan mobil oleh pihak brand perusahaan yang berkaitan. Tidak ada bekas rem di jalan yang dilalui mobil itu, artinya tidak ada usaha mengerem sedikitpun yang dilakukan oleh pengemudi mobil. Dan uji kelayakan mobil yang dilakukan juga menyatakan bahwa “XENIA AMAN”, artinya kondisi rem juga masih dalam keadaan normal dan baik-baik saja. Alasan rem blong memang cukup logis untuk dijadikan sebab sebuah kecelakaan, tapi jika itu sudah dimentahkan begitu saja, lalu alasan apa lagikah yang kemudian menjadi mungkin untuk dijadikan alasan yang logis?

Hasil pemeriksaan urin pertama yang dilakukan pada Afriyani dan ketiga temannya juga menunjukan negatif. Tapi hasil pertama itu begitu berbeda dengan hasil tes urin kedua yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya. Dari hasil pemeriksaaan kedua, Irjen. Pol Saut Usman Nasution (Kadiv Humas Polri) mengumumkan lewat konferensi pers jika empat penunggang Xenia maut itu sedang dalam kondisi mabuk dan terpengaruh zat ampetamin psitestimulen yang terkandung dalam narkoba golongan pertama, ekstasi. Apa yang membahayakan dari zat ampetamin psitestimulen itu? Menurut Dr Kusian Suriakusuma (Deputi Rehabilitasi BNN) zat ampetamin psitestimulen dapat mengakibatkan disorientasi waktu, jarak dan ruang (gangguan dalam penglihatan, melihat hal yang jauh menjadi sangat dekat atau sebaliknya), gangguan persepsi panca indera (halusinasi), paranoya (merasa dirinya hebat dan bisa melakukan segalanya), psiko paranoid (ketakutan psikologis berlebihan dalam batas yang masih wajar) dan skizofria paranoid (ketakutan psikologis yang sangat tinggi dan cenderung berlebihan). Menurut Dr Kusian, zat ampetamin psitestimulen inilah yang menyebabkan Afriyani hilang kendali hingga menabrak dua belas orang yang sedang berada di lokasi kejadian.

Masih tentang Narkoba, menurut Dadang Hawari (Psikiater), secara umum Narkoba adalah narkoze, yaitu zat yang mampu menghilangkan nyeri dengan resiko tinggi. Apa resikonya? Narkoba dapat mengganggu sistem transmisi otak dan persepsi yang akhirnya membuat pengonsumsinya kehilangan kendali.

Jika sudah seperti itu penjelesan para ahli tentang bahaya narkoba dan segala jenis golongannya, layakah narkoba dijadikan alasan logis dibalik tragedi maut yang terjadi pada hari minggu, 22 Januari tersebut? Jawabannya, layak!!
Kasus kecelakaan yang dilatarbelakangi narkoba, bukan baru kali ini saja terjadi. Jika kita kembali menoleh kebelakang, tentunya kita akan ingat kasus kecelakaaan pesawat yang terjadi beberapa tahun silam hingga mengakibatkan penerbangan Indonesia dilarang mengudara di Eropa. Dari balck box pesawat tersebut diketahui jika sebelum terjadinya kecelakaan ada perdebatan yang terjadi antara pilot dan co pilot. Pilot merasa sudah melihat tempat pendaratan sedangkan co pilot bahkan sama sekali tidak menangkap bayangan apapun dengan matanya. Apa penyebab perbedaaan pandangan ini? Setelah ditelusuri melalui pemeriksaan, ternyata beberapa jam sebelum mengudara pilot sudah mengonsumsi narkoba jenis ekstasi dan heroin. Hal ini tentu saja bisa menjadi satu bukti bahaya narkoba yang bisa mengakibatkan disorientasi jarak, waktu dan ruang.

Atau kasus lainnya lagi, sebuah pesawat yang menabrak sayap pesawat lain yang sudah lebih dulu parkir di landasan khusus penerbangan di Papua. Kecelakaan ini memang tidak menimbulkan korban karena pilot langsung bisa mengendalikan keadaan pesawatnya. Tapi bagaimanapun dalam dunia penerbangan ini sudah menjadi kealpaan parah yang tidak seharusnya dialami seorang pilot profesional. Setelah ditelusuri penyebabnya, pilot yang bersangkutan ternyata sudah mengonsumsi miras dan shabu beberapa jam sebelum penerbangan.

Dalam dunia kedokteran, narkoba dipastikan akan berpengaruh terhadap diri seseorang selama 3-6 jam tergantung pada seberapa banyak dosis yang sudah dikonsumsinya. Jadi, jika seseorang menkonsumsi narkoba hanya dalam hitungan beberapa jam sebelum mengendarai kendaraan, bisa jadi ia akan mengalami keadaan vetik (kelelahan) karena pengaruh narkoba yang sudah mencapai puncaknya saat masih di tengah perjalanan. Jika sudah sampai dalam tahap seperti ini, maka konsentrasi pengendara akan benar-benar lenyap karena pengaruh narkoba.

Narkoba, pada dasarnya ini memang selalu menjadi masalah kompleks yang dihadapi oleh setiap Negara di belahan dunia manapun. Bisnis narkoba berkembang pesat bahkan hingga menjangkau wilayah-wilayah terkecil dari suatu Negara, termasuk Indonesia. Secara statistik di wilayah Asia, Indonesia menjadi Negara yang paling banyak memiliki keterlibatan dengan narkoba dan menjadi Negara nomor tiga di seluruh dunia. Menurut  data BNN yang diungkapkan oleh Brigjen. Pol Benny Mamoto (Kepala Penindak dan Pengejaran BNN), hingga saat ini sebanyak 2,21% Warga Negara Indonesia adalah pecandu narkoba atau sekitar 3.800.000 jiwa. Itu belum termasuk dengan pengedarnya yang jika ditotal bisa mencapai 5.000.000 jiwa. Sebuah angka yang fantastis, bukan? Selain angka-angka tersebut, Brigjen. Pol Benny Momoto juga mengatakan jika hampir 50 orang meninggal setiap harinya karena narkoba dan penyakit HIV/AIDS.  Belum cukup dengan angka-angka itu, hampir 541 WNI juga sedang menantikan vonis hukuman di beberapa Negara seluruh dunia karena kasus narkoba ditambah dengan 281 WNI yang sudah lebih dulu ditahan karena menjadi kurir Narkoba.
Lalu pertanyaannya adalah, apa yang sedang terjadi di Negara tercinta kita ini sehingga narkoba bisa begitu leluasanya menguasai manusia-manusia Indonesia?

Indonesia adalah sebuah Negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Hal ini tentu saja menjadi target pasar yang menarik bagi pelaku bisnis narkoba. Betapa tidak, dengan banyaknya jumlah manusia yang ada di Indonesia, maka akan semakin banyak pula pengonsumsi narkoba. Seorang mafia narkoba bernama Abbas yang tertangkap di Thailand bahkan mengatakan jika Indonesia adalah pasar yang bagus karena jumlah peminatnya banyak dan harga jualnya juga sangat menguntungkan. Tidak hanya masalah kependudukan yang terus berkembang, masalah lainnya yang menjadi sebab bebasnya narkoba berlalu lalang di Negara ini tentu saja adalah faktor hukum yang selalu dianggap kurang tegas pada pelaku narkoba. Setelah disahkannya UU no 35 tahun 2009 tentang penggunaan narkoba, hingga saat ini belum ada satu orangpun tersangka narkoba yang mendapat hukuman mati. Bahkan, para narapidana yang sudah lebih dulu mendapatkan vonis mati sebelum disahkannya UU tersebut, saat ini juga masih hidup di penjara, bahkan lebih parahnya lagi malah menjadi pengendali pasar narkoba dari balik terali besi.

Pasar narkoba di balik penjara sepertinya bukan hal asing lagi bagi masyarakat kita saat ini. Bahkan menurut Yoyok, drummer PADI yang pernah menjadi terdakwa dalam kasus narkoba ini mengatakan jika ia pernah merasa sangat seram dengan peredaran narkoba yang terjadi di Rutan Salemba hingga membuatnya mengajukan permohonan penggantian penahanan di Mabes Polri. Kelonggaran hukum yang terjadi di Indonesia, diakui atau tidak juga sepertinya menjadikan Negara kita seolah begitu permisif dengan hal semacam ini. BNN juga menyatakan ada 200 pintu masuk untuk distribusi narkoba di Indonesia. Akan tetapi, 200 pintu masuk itu hanyalah sebagian kecil pintu masuk yang baru bisa dideteksi. 200 pintu masuk itu bertebaran, baik di udara, laut maupun darat.

Melihat hal seperti ini saiia kemudian menyimpulkan jika pemerintah sudah gagal dalam melakukan lima hal, yaitu: gagal mengontrol peredaran narkoba (ini dibuktikan dengan banyaknya jumlah narkoba yang rata-rata sekitar 26 ton setiap tahunnya), gagal mengontrol masuknya narkoba illegal (ini dibuktikan dengan banyaknya jumlah narkoba yang tidak diketahui darimana sumbernya), gagal menanggulangi operasional perdagangan narkoba ilegal, gagal menanggulangi penyalahgunaan narkoba (ini dibuktikan dengan banyaknya korban yang jatuh karena narkoba) dan gagal mengeksekusi pengedar narkoba.

Apa yang membuat pemerintah gagal dalam lima hal itu?
Menurut pandangan saiia, kegagalan itu terjadi karena adanya kebijakan otonomi daerah yang memberikan kebebasan bagi Pemerintah Daerah untuk menyusun segala bentuk kebijakan yang sesuai dengan Daerahnya (Perda). Kelemahan dari kebebasan menentukan Perda adalah Pemerintah Pusat tidak berhak untuk ikut langsung memberikan sanksi administaratif pada pelaku-pelaku kejahatan dalam suatu Daerah tertentu.

Meskipun melihat fakta tentang narkoba yang sudah sangat mencengangkan seperti diatas, BNN masih mengatakan jika pihaknya sudah melakukan upaya-upaya untuk mengendalikan pasar narkoba dengan cara yang sistematis, konseptual dan fundamental. Ya, pada dasarnya melenyapkan narkoba dari satu wilayah Negara bukanlah hal yang mudah. Dalam salah satu situs resminya, PBB bahkan menyatakan jika tidak ada satu Negarapun di dunia yang benar-benar bebas dari narkoba. Saking sulitnya memberantas narkoba, seorang budayawan ternama, Sudjiwo Tejo bahkan menganalogikan narkoba dengan ajian Condro Birowo yang hanya dapat dikalahkan oleh salah satu tokoh pewayangan yang memiliki kemampuan maha dahsyat.

Jika narkoba memang begitu sulit untuk diberantas, lalu upaya apa yang bisa kita lakukan untuk mengontrol peredarannya?

Dalam hal ini tentu saja pemerintah diharapkan mampu menerapkan dan mengaplikasikan hukum yang tegas sehingga bisa membatasi ruang gerak para pelakon bisnis ini. Hukum bisa dijadikan satu senjata ampuh dan media untuk melawan, membatasi dan mengontrol peredaran narkoba.

Sekali lagi, narkoba tidak hanya merusak sistem kerja otak manusia yang semuala “feel-think-doing” menjadi “feel-doing”, tapi juga ikut merugikan bangsa dengan meningkatkan angka kriminalitas.

0 respons:

Ir arriba

Post a Comment

How time is it? :)

Hello Kitty In Black Magic Hat

In this BlogHaz click para ver Archivo

 
 

Diseñado por: Compartidísimo
Con imágenes de: Scrappingmar©

 
Ir Arriba